Sunday, 18 November 2018

Trip to HongKong 2018 with toddler (Part 1)



Seperti tahun sebelumnya waktu berlibur ke Singapura. Kita membeli tiket pesawat untuk ke Hong Kong sekitar satu tahun sebelumnya. Beli saat event Garuda Travel Fair. Sengaja beli tiket jauh-jauh hari agar persiapan keuangan cukup matang. Bisa nabung-nabung dulu untuk hotel, makan dan belanja. Hihihi.

Karena Pergi ke HongKong tidak perlu visa, maka kami hanya perlu mengecek paspor. Keberadaannya, dan tanggal sudah terupdate 6 bulan sebelum masa berlaku paspor habis.
Saya juga survey berbagai tempat di HongKong melalui internet. Tujuan pertama saya dan suami adalah tempat yang akan membuat R senang. Yaitu Disneyland HK. Banyak yang bilang untuk berkunjung ke Disneyland, lebih bagik ke Disneyland Jepang. Disneyland HK biasa saja, seperti Dufan. Tapi saya dan suami tetap memilih Disneyland menjadi destinasi utama saat berlibur ke HongKong, karena: Tidak cukup uang untuk beli tiket ke Jepang, dan tidak ada karakter Disney di Dufan, hehehe. 

Saya juga mencari banyak referensi makanan halal, dan tempat solat disana. Jadilah menurut suami, trip kita kali ini adalah wisata kuliner halal di HK. Padahal sih ya, hanya beberapa tempat saja restoran halal yang kita kunjungi. Karena jam buka resto yang tidak sesuai perjalan kita. kalau tidak menemukan yang berlabel halal, kita membeli ayam goreng KFC dengan bismillah :D


HongKong ternyata adalah negara multicultural. Tidak sulit bertanya dengan bahasa Inggris di tempat-tempat umum. Seperti di bandara, toko-toko, dan tempat makan. Bahkan petugas umum disana fasih berbahasa Inggris dibanding saat saya ke Korea tahun 2013 silam. Selain itu juga yang menarik adalah banyaknya orang Indonesia disana. Baik orang Indonesia berwajah orientalatau orang Indonesia yang benar-benar berwajah Indonesia. Karena kita liburan disana melewati waktu Sabtu dan Minggu, kita menemukan banyaaaaakkkk sekali para  TKW yang berkumpul di alun-alun sana. Para pekerja tidak hanya mengisi mesjid untuk kajian, tapi juga menjadikan alun-alun tempat mereka bercengkrama dan "berlibur" dengan teman sebangsa Indonesia. 


Day 1

Kami terbang dengan jam keberangkatan  10.10 dari bandara soekarno-hatta. Waktu perjalanan pesawat kurang lebih 5 jam. Pak suami mengambil jam keberangkatan siang demi menjaga stamina anak semata wayang kami. "Biar ga rewel dibawa subuh-subuh atau tengah malam," begitu katanya.
Sejak berangkat pagi, R masih anteng karena sudah saya sounding kalau besok R harus bangun pagi dan langsung mandi karena akan berlibur dengan menggunakan pesawat. Sampai masuk pesawat R terlihat tidak nyaman, tidak seperti biasanya. Diajak membaca buku dna mewarnai hanya bertahan sebentar, lalu ia menangis. Ternyata R mengantuk. Baiklah, ,mungkin memang tadi pagi terasa melelahkan karena begitu bangun langsung mandi dan berangkat, sarapan roti juga dilakukan di mobil. 

Ini pertama kalinya R melakukan perjalanan pesawat lebih dari 1-2 jam. 5 jam perjalanan, saya mempersiapakan beberapa buku yang bisa dibaca dan dimainkan. Walaupun ternyata tidak terpakai karena selama perjalanan R tidur dan nonton dari layar kursi pesawat. R juga tidak bernafsu makan saat berada di pesawat.


Sampai di bandara Hongkong, sekitar jam 4 waktu Hongkong saya langsung menawarkan R untuk makan kembali. Mengingat R dari pagi baru makan roti dan minum susu, kali ini saya harus lebih berusaha agar R mau makan. Akhirnya kita "mojok" untuk makan siang R. Alhamdulillah, akhirnya R mau makan dengan lahap. Mission accomplished.

Hari sudah sore dan tidak mungkin sampai hotel sebelum matahari terbenam, saya mencoba mencari tempat solat di Bandara. Sesuai review yang saya baca, quite room ada lantai 6, di belakang section A. Belakang toilet. Quite room bisa dipakai solat dan ibadah agama lain. Terdapat tempat duduk dengan kran di kaki, dan garis yang dibentuk mengarah kiblat dengan petunjuk kiblat di langit-langit ruangan. Di sisi lain terdapat kursi-kursi yang mungkin bisa digunakan agama lain untuk beribadah. Tempatnya cukup nyaman. Ternyata kalau berusaha mencari, ibadah tetap bisa dilaksanakan meski di bukan di negara sendiri. Hihihi.



Kami melanjutkan perjalanan dengan menaiki kereta airport express untuk menuju kota Hongkong. Disambung dengan naik MTR menuju stasiun central, lalu ganti kereta menuju causewaybay. lalu berjalan menuju hotel.

Perjalanan siang terasa cukup panjang, sepertinya tidak sempat kemana-mana selain makan. Saya ingin mencoba Wai Kee tempat nasi bebek halal yang hanya perlu 1 menit berjalan dari hotel.  Ternyata sudah tutup dari jam 6 sore tadi. Saya salah membaca jadwal buka restorannya, hahaha. Akhirnya kita memutuskan makan di KFC lalu pulang lagi. Dan memulai perjalanan esok hari ke Disneyland.


Day 2

Hari kedua kami berharap mendapat energi baru. Yeaayy, karena hari ini kita akan ke Disneyland. Sekitar jam 09.00 kami berangkat menuju Disneyland menggunakan MTR. Perjalanan yang cukup jauh ditempuh sekitar satu jam. Untuk menuju Disneyland ada kereta khusus dengan jendela berbentuk kepala Mickey. Gerbong unik yang baru bagi saya. Di dalam gerbong terdapat kursi yang cukup berbeda dari biasanya. Di setiap area terdapat beberapa patung karakter Disney yang sudah mendunia dengan warna keemasan. 

Saat memasuki gerbang, ada pemeriksaan tas. Saya pikir, tidak ada benda terlarang yang kami bawa. Tapi ternyata ada barang yang harus kami relakan. Yaitu botol minum R. Karena bahannya kaca, botol itu dianggap berbahaya walaupun sudah dilapisi karet berwarna pink. Sebelumnya botol ini juga sempat dipermasalahkan di bandara. Bukan karena isi airnya, tapi karena bahan kacanya. namun kahirnya lolos. Sedikit menyesal saat harus membuang botol tersebut ke tong sampah begitu saja. Tapi ya sudahlah, mungkin umur  saya bersama botol itu hanya sampai disini. Hiks.




R melihat banyak anak perempuan yang memakai gaun princess yang menjadi tokoh Disney. Ia menginginkan hal yang sama. Saya tidak terpikirkan dengan hal ini. Ternyata Disneyland bisa menjadi surga bagi para pecinta princess series. Anak-anak perempuan tersebut pasti akan merasa menjadi pemeran utama saat berjalan-jalan menggunakan gaun di daerah istana. untung saat itu r menggunakan baju terusan, saya katakan kalau ia juga sedang menggunakan gaun princess, princess R, hehehe.



Saat makan siang kami menuju tempat yang sudah saya cari sebelumnya di Indonesia. Yaitu Explorer Club. Kabarnya makanan yang dijual disana sudah berlabel halal. Dan tepat dibelakang restoran tersebut terdapat musholla bagi muslim yang bernama quite room. Jadilah kami singgah di daerah sana cukup lama. 

Tempat wudhu quite room Disneyland
bermain di Disneyland hari itu ditutup dengan hujan yang sangat deras. Sebelum turun hujan, pihak Disneyland yang sudah tahu keadaan cuaca mengumumkan kalau hari itu tidak akan ada parade. Bnear saja, tidak lama setelah pengumuman hujan deras turun. Kami berteduh di toko souvenir. R langsung sumringah melihat barang-barang di etalase toko.

Hari kedua di HongKong saat musim hujan, kami baru menyadari kalau raincover stroller sangat penting. Sementara mencari barang tersebut stroller R dengan jas hujan Disneyland. Akhirnya jas hujan tersebut bertahan sampai kami kembali ketanah air. mungkin raincover tersebut bisa jadi pelajaran berharga untuk trip selanjutnya kalau masih membawa stroller.


Day 3

Hari ini kami berencana untuk jalan-jalan dan berbelanja oleh-oleh dan berwisata kuliner halal di HongKong. Untuk sarapan, sekitar jam 10 kita menuju Islamic Center. Ya, karena lelah setelah perjalanan kemarin kita berangkat cukup siang. Memang terlalu siang untuk sarapan dan terlalu pagi untuk makan siang. hehehe. Let's say it brunch :D Kami menikmati hidangan dim sum Halal, yang maasya Allah, enak-enak semua. banyak jenis dim sum yang baru saya lihat disini daripada di Indonesia. Dan semuanya cocok di lidah, hehehe.

Setelah makan, kami berangkat ke ladies market dan mengunjungi sneakers street. Pemandangan indah buat pecinta sneakers seperti suami, dan akan sangat senang kalau punya uang lebih buat belanja. Hahaha. 

Masjid Ammar dan Osman yang sedang renovasi
Playground


Setelah berkeliling dan mendapatkan belanjaan yang diinginkan. Kami menuju star avenue, tempat cetakan tangan dan patung orang-orang yang berjasa untuk dunia perfilman HongKong. Tapi ternyata tempat tersebut sedang di renovasi. Sempat bingung mau kemana akhirnya kita berjalan iseng, da menemukan petunjuk menuju garden of stars. Apa ya itu? sebelums ampai kesana kita menemukan playground, sudah pasti kita berhenti untuk membuat R senang dahulu. Ia melepas lelah duduk di stroller dengan bermain. Disana, hehehe. Tidak lama kami menuju Garden of stars, yang ternyata disana ada patung-patung, cetakan tangan dan poster besar para pemain film HongKong. 





Kami menunggu malam untuk melihat City of Lights. Dimana gedung-gedung HongKong akan menyala dan berkerlap-kerlip mengikuti irama lagu. Hmmm cukup menarik, tapi tidak semegah air mancur di Singapur. Saya lebih suka pertunjukan air mancur dan permainan cahayanya.


Wednesday, 12 September 2018

Tulisan Ibu Amatir di Buku 9 Perempuan Berbicara

Memang tidak ada ibu yang amatir ya. Sebutan ibu biasanya disebutkan pada wanita yang sudah memiliki anak. Atau yang diketahui sudah menikah. Atau pada umur tertentu untuk generalisasi seorang wanita akan dipanggil ibu. Ibu amatir yang dimaksud disini ketika saya merasa tidak sukses menerapkan sesuatu yang ingin saya terapkan pada R. Banyaaaak hal, banyak trial and error  yang saya lakukan pada R. Kalau kata iklan kayu putih "Buat anak kok coba-coba?" yaa gimana lagi namanya juga ibu baru yang masih belajar. Banyak idealisme, banyak kepengenan yang di diterapkan pada anaknya.

Dari setiap keinginan tersebut, pasti ada pro kontra yang datang dari sekitar. Bahkan dari orang terdekat sendiri. kadang juga saya menelan sendiri kontra yang menurut saya tidak sesuai dengan saya. Yang dulu saya ejek dalam hati, namun ternyata efektif untuk sementara saya tidak perlu pusing untuk hal tersebut. Sampai sekarang, detik ini, idealisme saya dalam pengasuhan anak masih berubah-ubah, namun masih dalam satu jalur, perfeksionis. Sebenarnya ini tidak baik bagi kesehatan mental ibu, namun ini adalah sifat dasar saya yang sulit hilng dari diri saya.

Akhirnya saya menuliskan perjalanan hati saya pada sebuah buku. Buku ini dirancang untuk membuat perempuan tidak merasa sendiri. Karena di dalam buku tersebut berisi 9 cerita dari 9 perempuan di berbagai generasi, dengan masalah yang berbeda-beda. Yang pasti masalah yang sering didapatkan perempuan. Kebanyakan perempuan dianggap lemah dari segi fisik. Namun buku ini memberikan bukti bahwa perempuan itu tangguh dalam manajemen hati.

Cerita-cerita dalam buku ini adalah cerita nyata dari pengalaman penulis sendiri, atau orang sekitar penulis. Ada tentang pengalaman merawat anak kembar yang autis, tentang perjuangan seorang skilioser, seorang pembantu rumah tangga dengan kisah haru yang dibuat oleh anaknya. Dan masih banyak lagi cefrita yang bisa membuat kita tertawa dan menangis dalam satu buku.

Para Penulis 9 Perempuan Berbicara bersama cikgu Anna



Info pemesanan buku bisa DM Instagram @9perempuanberbicara atau line skychatriana. Open reseller juga loh ;)

Tuesday, 21 August 2018

Tips Berlibur ke Luar Negri Bersama Anak



Seperti yang saya sebutkan di postingan sebelumnya. Banyak orang merasa tidak aman membawa anak bepergian jauh. Tapi banyak juga yang sudah lebih berani dari saya dalam hal traveling. Saya bukan orang yang pro dalam hal perjalanan. Karena memang tidak sering. Tapi dari pengalaman dua tahun ini, saya mendapatkan banyak pelajaran mengenai perjalanan bersama balita. Tidak mudah, tapi patut dicoba. Perjalanan keluarga kecil bisa menjadi ajang untuk melatih kekompakan. Membuat anak merasakan pengalaman baru. Anak juga akan tahu harus bagaimana di situasi seperti ini. Asalkan melakukan persiapan yang cukup matang. Yang sering saya lakukan sebelum berangkat, adalah.

Tentukan Destinasi
Ketika bepergian, saya selalu mempertimbangakan apakah anak akan senang di tempat tersebut atau tidak. Jika membawa anak, berarti kita mencari tempat yang ramah anak. Atau membuat tempat tersebut menjadi ramah anak.Walaupun ada destinasi yang ingin kita tuju, jangan lupa untuk mencari tempat yang kira-kira akan membuat anak senang. Sehingga ia merasa liburan itu bukan hanya untuk orang tuanya, tapi juga dirinya.

"Berselancar" Seluk Beluk Destinasi
Setelah menentukan tujuan. Saya selalu browsing di internet mengenai tempat tersebut. Bagian mana yang ingin saya kunjungi, dan bagian mana yang akan cocok untuk anak. membuat itinerary atau rencana perjalanan itu penting. Apalagi kalau membawa anak. Agar kita tahu kemana saja kita akan pergi, tidak bingung dan menghabiskan waktu di lokasi untuk menentukan tujuan. Saya juga selalu menggunakan aplikasi google maps untuk mengestimasi waktu tempuh dari hotel ke tempat-tempat tujuan. Mengecek jalur kereta atau bus, dan mencatatnya di itinerary.

Halal Trip
Karena saya muslim, jika memungkinkan saya mencari hotel yang dekat kawasan muslim. Dimana makanan halal akan mudah dicari. Saya juga mengecek lokasi dimana bisa melakukan shalat saat berjalan-jalan. Sejauh ini, saya belum kesulitan dalam mencari tempat ibadah. Karena lokasi tujuan masih ramah muslim. Jika tidak mendapat temat makan bersertifikasi halal, kami memutuskan untuk makan ayam goreng frachise yang sangat terkenal di seluruh dunia. Hehehe. Dan setiap negara tidak menyajikan menu yang sama. Pasti di sesuaikan dengan selera lokal saat itu. Seperti keberadaan nasi, tidak seperti di Indonesia, paket ayam dan nasi polos agak sulit ditemukan di luar negri. 

Packing
Karena bepergian bersama anak balita. Usahakan mengemas barang dengan minim tas. Dalam perjalan berangkat, kami hanya membawa satu koper medium, satu ransel yang cukup besar dan satu tas berisi stroller. Saya membawa tas cadangan yang cukup besar dan mudah dilipat di dalam koper, untuk persiapan penambahan barang saat pulang.
Saat bepergian seperti ini, saya meninggalkan tas selendang cantik yang sering saya gunakan sehari-hari. Saya juga meninggalkan dompet dan menggantinya dengan dompet traveling yang cukup besar untuk 3 paspor, satu pulpen, kartu identitas, debit dan credit card untuk berjaga-jaga, uang rupiah dan dollar.
Dalam tas ransel saya membawa, dompet traveling, alat sholat, tiket perjalanan dan hotel, botol minum, cemilan anak, buku kecil untuk anak, pensil warna, satu buku cerita, tempat makan kecil yang kosong (ini digunakan untuk sisa makanan kalau anak tidak mau makan saat kita makan dan kemungkinan lainnya), sendok bersih, susu anak, satu set baju ganti anak, handuk kecil, tisu basah, minyak kayu putih, essential oil, parfume oil, semua cairan harus dibawah 100ml dan tripod kecil untuk berfoto.
Dalam Koper sudah pasti baju-baju kami bertiga, segala bentuk cairan diatas 100ml saya masukkan koper. Demi menghemat, saya membawa susu UHT anak dalam koper, estimasikan jumlah susu selama perjalanan. 

Stroller
Sampai saat ini R berusia 3 tahun lebih, saya masih membawa stroller. Mungkin usia 4 tahun juga kita masih akan membawa benda tersebut. Karena perjalanan cukup jauh, anak mudah capek, dan masih perlu tidur siang, jadi bisa tidur di stroller. Kami menggunakan stroller yang bisa dilipat sampai sebesar ransel biasa. Cukup memudahkan perjalanan, kalau anak mengantuk. Yang menjadi tantangan menurut saya malah saat nanti anak sudah terlalu besar untuk menggunakan stroller. Untuk bayi mungkin bisa menggunakan baby carrier. 
Pelajaran yang saya dapatkan dari perjalanan terakhir adalah, kita membutuhkan rain cover untuk stroller. Agar kita bisa tetap berjalan-jalan dan anak aman dari hujan. Awalnya saya pikir rain cover itu hanya aksesoris tambahan dari stroller premium yang cukup mahal. Atau hanya bisa beli di luar negri karena di Indonesia stroller hanya digunakan di mall, hahaha. Ternyata setelah saya cek toko online di Indonesia juga sudah banyak yang jual raincover stroller. Jadi ini salah satu barang penting saat perjalanan kemarin.



Monday, 20 August 2018

Singapore with Toddler (Travel Hemat)

Saat mendengar kata liburan bersama anak, khususnya balita. Apa yang anda bayangkan? Saat saya dan suami merencanankan perjalanan ke Singapore tahun lalu, beberapa komentar kurang enak muncul dari orang-orang terdekat saya. Namun bagi yang suka traveling, pasti akan mengkondisikan segala cara agar liburan tetap terasa menyenangkan.

Beberapa orang berkata
"buat apa anak masih kecil dibawa liburan jauh-jauh? belum ngerti,"
 atau

"repot bawa anak kecil liburan, nanti malah ga nikmatin karena anaknya ga bisa diem atau rewel, lagian anaknya belum inget juga"
 hmmmm. Sebenernya ini pikiran suami saya juga sih. Hahaha

Tapi, keputusan saya membawa R liburan ke luar negri pastinya karena saya tidak bisa lepas dengan R. Belum pernah saya kepikiran untuk menitipkan R sampai berhari-hari, semalampun saya masih belum berani. Sejauh ini saya menitipkan R paling lama hanya untuk kegiatan harian biasa. Itu juga kadang-kadang dan hampir jarang. Tidur masih selalu dengan saya. Kalaupun dititipkan saya hanya percaya pada kakek-neneknya R, bukan orang lain.

Selain itu saya juga merasakan manfaat berjalan-jalan bersama keluarga inti adalah kerjasama. Kita membagi tugas, dan saling inisiatif. Tidak ada waktu untuk berdebat berlama-lama di jalan, karena kita tetap harus melanjutkan perjalanan.

Buat pecinta travelling, selama masih memungkinkan pasti akan berusaha untuk tetap bisa pergi. Apalagi membawa anak menjadi tantangan sendiri. Kalau buat saya, daripada ga jalan-jalan, atau daripada jalan-jalan dengan hati galau. Mending bawa anak sekalian. Sekalian nambah bonding, sekalian memperkenalkan belahan dunia lain. Walaupun kali ini saya baru bisa mengenalkan potongan kecil dari dunia. hihihi

Singapore, adalah negara pertama yang saya perkenalkan pada R. Semoga ada negara lain yang bisa saya  kenalkan. Kalau tidak, semoga R nanti bisa mengenal negara lain sendiri walaupun tanpa saya. Nanti, kalau sudah dewasa. hehehe

Tempat-tempat yang kami tuju pastinya yang toddler friendly. Jadwal yang saya susun juga dibuat se-fleksibel mungkin, dan tidak terlalu padat seperti bersama tour yang membawa orang dewasa. Berikut adalah kegiatan liburan kami di Singapore selma 4 hari 3 malam:

Playground Bandara Changi
Hari pertama, sesampai di Singapura, saya menemukan tempat menarik untuk anak-anak di Bandara. Ada playground untuk anak-anak melepas lelah setelah duduk cukup lama di  pesawat. orang tua juga bisa duduk-duduk sambil meluruskan kaki di sekitar playground. Playground cukup menarik perhatian anak. Sayangnya R hanya sempatt bermain sebentar karena kita harus segera check in hotel.

Makanan Halal dekat Hotel
Setelah check-in Hotel, kami makan di tempat makan terdekat bernama Al-Jailani. Temptanya berada di pinggir jalan, dan kami bisa merasakan suasan makan pinggir jalan di singapura yang minim sepeda motor. hihihi. Untuk makan halal lainnya sebenarnya ada di daerah Marina Bay Sands di Makansutra. Karena keburu lapar, jadi kita memutuskan makan Al-Jilani dulu. Al-Jilani berada di jalan Bencoolen. Tepatnya sebrang hotel Ibis Bencoolen. Kami hanya perlu berjalan 5 menit dari hotel tempat kami menginap menuju sana. Menu yang disediakan kebanyakan masakan Timur Tengah.

Marina Bay Sands
Malam itu juga kami berencana menuju kawasan Marina Bay Sands. Ternyata R sudah tertidur di stroller sebelum turun dari MRT. Jadi kita berjalan seputaran Marina Bay, melewati Helix Bridge, dan berjlaan menuju patung Merlion berdua sambil mendorong stroller R. Ternyata saat itu kita sempat menikmati Laser Show yang dinyalakan kembali sekitar jam 9 malam. Walaupun dari kejauhan, musik, pijaran lampu dan tarian air mancur terlihat indah. Saya akan memastikan besok untuk melihat lagi di jam dan tempat yang tepat. Terlebih lagi yang saya suka adalah, pertunjukan ini gratis. Hihihi.

Masih Bangun, semangat mau lihat patung Singa katanya
Ternyata ga kuat, ngantuk :D









Santosa Island
Hari kedua kami berencana menuju Santosa Island. Karena R masih balita, saya tidak berfikir untuk ke Universal studio. Saya dan suami memilih mengunjungi S.E.A Aquarium untuk memperlihatkan R Aquarium besar lainnya selain di Jakarta. R seperti biasa sangat tertarik melihat ikan-ikan yang berenang jauh diatasnya.

Menunggu Bus
Perjalanan Menuju Santosa Island


menyempatkan foto di depan Universal Studio walaupun tidak masuk ;p



Gardens By The Bay
Tempat yang saya sukai untuk R bermain dengan senang secara gratis ya disini, hihihi. Childern Garden's disini punya banyak pipa berwarna-warni yang memancurkan air dengan berbagai variasi. selain itu, kita tidak perlu anak khawatir terpeleset karena karpetnya terbuat dari karet, aman untuk anak berlari-lari di tengah hujan buatan. R senang sekali bermain disini, ia bermain air sampai tempatnya tutup.

R menikmati hujan buatan

Habis main air, bermain di playground kering





Jalan-Jalan di Orchard Road
Sambil sedikit belanja, kita berjalan di sepanjang Orchard Road. Ternyata ada es krim potong yang khas dari Singapura. Kita menyempatkan membeli dan memancing R bangun dengan es krim itu. Hihihi


Bermain dengan teman baru, sambil menunggu yang shalat Jum'at








Sunday, 13 August 2017

GTM dan Picky Eater

Halo, sudah lama sekali tempat curhat emak satu anak ini terbengkalai ya (sambil bersihin sarang laba-laba dipinggiran blog). Laptop saya juga cukup berdebu karena dibiarkan stand by diatas meja tapi gagal dibuka terus. Dulu sulit sekali dapat koneksi internet melalui tethering handphone ke laptop, posting blog lewat HP rasanya pegel, ga enak ngetiknya. Akhirnya hiburan saya hanya lewat update medsos dan liatin timeline setiap hari. Alhamdulillah suami pasang internet fiber optik di rumah, jadi lebih mudah buat akses internet di laptop. Browsing lebih enak, bloging lebih nyaman, makasih piku^^

Dari terakhir posting itu sekitar satu tahun lalu ya, waktu R bikin paspor. Udah lama sekali ternyata saya ga mampir ketak-ketik disini. Sekarang saya ingin membahas masalah GTM (Gerakan Tutup Mulut) dan Picky Eater melalui kacamata saya. Dari pengalaman saya sendiri dan memang belum ada jalan keluar yang pasti ya, penyebabnya saja saya masih ga yakin, hehehe. Jadi disini saya mau curhat aja apa yang sudah saya lalui. Jujur aja hal ini cukup bikin saya stress, karena saya berharap terlalu banyak untuk hal ini. Saya ga pernah membayangkan R akan sesulit ini untuk makan, dan akan se-picky ini dalam memilih-milih makanan. Saya ingin R menjadi anak yang sempurna dengan cara yang berbeda, saya telalu idealis kalau cara-cara antimainstream akan membuat R menjadi anak yang berbeda dan mengagumkan. Pola pikir seperti itulah yang membuat saya stress karena pada kenyataannya R jauh dari idealisme yang saya buat.



Awal makan R pada usia 6 bulan, dulu saya mempersiapkan MPASI R dengan cara Spoon Feeding, lalu saya menemukan metode BLW (Baby Led Weaning). Saya pikir BLW keren, dan akan berhasil pada setiap anak. Saya merasa bangga ketika R bisa mengambil makanan sehatnya sendiri dan memakannya dengan sukarela tanpa dipaksa. Awalnya saya berencana mix BLW dan SF, lalu saya melihat R lebih senang dengan cara makan BLW dan agak sulit disuapi. Saya memutuskan R untuk full BLW. Tapi saya tidak begitu mendalami BLW ini, saya hanya bermodal browsing sana-sini dan melihat anak yang melakukan metode yang sama melalui media sosial. Sampai sekarang saya masih belum memiliki buku panduan khusus untuk metode makan seperti ini. Mungkin inilah penyebabnya, saya kurang ilmu untuk menerapkan metode ini pada R, jadi berujung pada GTM dan picky eater dimana sifat ini sangat kebalikannya dari hasil yang diharapkan dari metode BLW ya.

Saya tidak tahu awalnya dari mana, dan saya juga lupa semenjak umur berapa bulan R akhirnya saya kembali suapi dengan sendok atau tangan, dan parahnya kadang sambil nonton. Jauh dari idealisme yang saya inginkan. Mungkin pada saat R berumur 18 bulan, kita mendapati R sedang sakit dan sangat sulit untuk mau makan sendiri, akhirnya saya suapi dan lama-lama ia menjadi sangat picky dan  saya sampai tidak tahu apa yang bisa dimakan R saat dia GTM. Akhirnya makanan R hanya berputar pada telur dan daging ayam plus kecap. R jadi sering sakit-sakitan karena sulit makan, makan sendiri ga mau, disuapi susah. Saya merasa gagal menjadi ibu setiap R sakit, dan kesal ketika R tidak mau makan. Saya ajak jalan-jalan makannya cuma beberapa sendok, paling lancar memang saat menonton tv dan saat ia memang sedang lapar. Salahnya saya pada saat momen lapar R saya menyerah menyediakan makanan sehat pada R, saya menuruti maunya R. Susu, biskuit, bubur bayi instant, kue-kue yang dia suka. Saya mengikuti kata sebagian orang termasuk orang tua dan mertua saya  "yang penting ada makanan yang masuk". Karena berat bada R-pun sudah berada di batas bawah normal.

Tidak jarang saya emosi dalam menghadapi pola makan R. Dalam beberapa masa saya ga mau ambil pusing, saya berusaha sediakan makanan sehat setiap hari tapi kalau R menolak saya langsung cari-cari dan tawarkan kira-kira makanan apa yang R mau, saya berusaha tenang. Ketika R sudah lancar makan, tiba-tiba ia menjadi susah makan lagi, mungkin tumbuh gigi atau sedang tidak enak badan. Tapi R bisa makan kerupuk dan tidak mau makan nasi, ata karbohidrat lain, R selalu menolak makanan yang saya tawarkan. Sampai saya frustasi saya menasehati R seperti saya menasehati anak SMP yang sudah bisa belajar matematika dan biologi. Dengan nada tinggi, dan sedikit frustasi. R semakin tidak mau makan. 

Oke, disinilah kesalahan saya. Saya kurang sabar, bahkan sangat tidak sabar. Ketika R saya beri label "anak susah makan" saya terus merasa insecure pada saat jam makan R. sedikit saja R menolak saya langsung panik "Ayo R makan biar sehat, biar kuat" dengan nada agak tinggi namun masih sedikit sabar. penolakan R bukan karena pada makanannya, tapi bisa jadi pada cara saya memberikan makan. Namun, ketika saya coba R kembali makan sendiri, R mulai menikmatinya. Namun lagi-lagi ada kesalahan yang saya lakukan, bayangan saya adalah pada patokan seberapa banyak R harus makan. Ketika R sedang makan saya kadang berkata "sayurnya dong dimakan, trus dagingnya, nasinya juga ya" intersupsi ini yang kadang membuat R berhenti makan. Ketika R berhenti makan "eehh kok udahan makannya? ini masih banyak sisanya" hal ini juga yang mungkin membuat R malas makan. Terlalu banyak interupsi.

Sebenarnya saya malu sekali menuliskan ini, namun saya juga perlu catatan dan pengingat apa saja sebenarnya kesalahan saya. Sengaja saya publish  agar ibu lain tidak seperti saya. Sampai sekarang saya masih belum total bisa memperbaiki pola makan R yang kadang GTM dan picky. Pada suatu waktu R lancar makan dengan disuapi sambil nonton atau sambil jalan-jalan. Atau makan sendiri dulu, kalau masih sisa banyak saya suapi. Saya merasa gagal dengan pola makan seperti ini, tidak sesuai dengan harapan saya. Dan semakin baper ketika melihat video anak seusia R lulus BLW, bisa makan sendiri tanpa pilih-pilih. Atau makanan kesuakaan anak itu adalah makanan sehat. Perilaku saya ini juga kurang sehat ya,.Dengan menginginkan R menjadi seperti orang lain.

Saya seharusnya fokus pada perkembanga R aja. Dan banyak bersyukur jika R mau makan. Memuji normal setiap kemajuan  R. Maksudnya memuji normal adalah tidak berlebihan sehingga anak tidak mudah puas dengan pencapaiannya.

Dengan keadaan R seperti ini, saya jadi berubah pikiran tentang Spoon Feeding yang dulu saya anggap tidak berguna dan tidak ada manfaatnya dalam pembelajaran anak. Ternyata SF juga membentuk kelekatan anak pada orang yang menyuapinya. Tapi harapan saya tetap seharusnya R makan sambil duduk dan cukup berkomunikasi saja, tidak perlu pakai nonton apalagi sambil jalan-jalan kesana kemari. Durasi waktu makan juga tidak perlu terlalu lama. Membujuk terus menerus sampai makanan habis dengan berbagai janji yang belum tentu bisa kita tepati juga saya kurang setuju dengan cara tersebut.

Akhirnya saya sekarang harus memulai bersabar dengan metode yang saya inginkan. Saya tidak bisa berkspektasi langsung jadi seperti yang saya inginkan. Dan harus bisa lebih menahan diri untuk "mengomel" pada R. Menjauhkan R dari trauma makan, masih Pe-er banget buat saya. Semoga kalay dikasih rejeki anak lagi pengetahuan saya lebih jelas mengenai cara menerapkan pola makan sehat pada anak. Aamiin

Thursday, 11 February 2016

Membuat paspor anak via online

Saya mau sharing proses pembuatan paspor R minggu kemarin. Paspor yang dimaksud disini paspor buku seperti biasa ya, bukan yang elektronik. Karena pada saat saya berencana buat yang elektronik katanya ga bisa di Bandung, bisanya di tempat tertentu di Jakarta. Huhuhu
Anak yang dimaksud juga adalah anak berumur di bawah 18 tahun, karena masih belum memiliki ktp. Berikutnlangkah yang saya lakukan dan kesalahn yang tentunya tidak perlu Anda ulang. Karena saya merasa informasi kelengkapan data secara online dari badan Imigrasi masih kurang, dan ada uga kesalahan yang saya lakukan sampai saya harus bolak-balik. Maka saya berencana membagi pengalaman ini untuk meminimalisir orang yang bernasib sama. Hehehehe
1. Daftar online
Masuk ke web badan imigrasi https://ipass.imigrasi.go.id:9443/xpnet/faces/xpnet-main.xhtml lalu pilih pra permohonan personal. Sebelumnya Anda bisa mengklik petunjuk pengisian layanan paspor online lalu mengisi data sesuai petunjuk yang di download terlebih dahulu.
2. Email konfirmasi dan pembayaran
Kita akan menerima email konfirmasi dan diarahkan untuk melakukan pembayaran ke bank BNI. Ada lampiran yang perlu kita cetak terlebih dahulu, lalu melakukan pembayaran langsung ke bank BNI. Lalu kita akan menerima bukti pembayaran.

3. Konfirmasi pembayaran
Kesalahan saya adalah lupa melakukan konfirmasi pembayaran. Dan untuk jadwal kedatangan saya ke kantor imigrasi, saya mengacu pada tanggal yang saya pilih di pendaftaran awal. Ternyata H-1 saya berencana ke kantor imigrasi saya mengecek kembali email dan membaca poin poin keterangan. Baru saya mengkonfirmasi pembayaran dan mengecek tanggal kedatangan ke kantor. Ternyata pada tanggal yang saya klik sebelumnya sudah berwarna abu abu yang berarti sudah penuh, dan baru bisa mengatur jadwal untuk minggu depan. 
Saya masih kekeuh ingin melakukan proses pembuatan paspor besok, saya penasaran dan mencoba datang langsung ke kantor imigrasi untuk memastikan. Setelah bertanya pada petugas, barcode dari bukti pembayaran di scan dan keluar tanggal yang saya pilih pada saat konfirmasi pembayaran bukan saat daftar pertama. Oke, saya akan datang pada tanggal tersebut. 
4. Kedatangan pertama
Saya mendatangi kantor imigrasi Bandung yang berada di jalan Suci. Antrian panjang berada di dua sisi. Saya tidak langsung mengantri, tetapi masuk dan bertanya pada petugas kalau saya peserta online harus kemana. Lalu petugas mengarahkan untuk baris di antrian sebelah kiri kalau dari arah gerbang. Ga banyak yang tau tentang ini karena tidak ada plang keterangan nama antrian. Jadi sebenarnya itu antrian bercampur. Masih ada orang offline yang antri di antrian online. Padahal yang antri online sebenarnya ga sebanyak offline, jadilah antrian tetap lama karena yg offline tetap diarahkan, tidak disuruh balik antri. Di antrian itu saya banyak menyadari kesalahan. Kenapa orang-orang sudah membawa map dan berkas-berkas yang saya tidak ketahui? Lirik punya lirik saya menemukan papan pengumuman berisi list berkas yang harus di bawa untuk anak dibawah 18 tahun. Dan saya menyadari banyak yang belum siap. 
Saya tetap antri walaupun masih ada berkas yang kurang. Siapa tau setelah dapet nomor antrian saya bisa pulang dulu dan kembali lagi. Melihat antrian yang panjang, pasti sempat. Ternyata dari petugas pengambilan antrian saya udah kena dari KTP asli yang lupa saya bawa! Karena terselip di mesin scan rumah saya, terakhir saya fotokopi KTP di alat itu. Ini benar benar lupa. Jadi memang seluruh berkas persyaratan harus dibawa bersama aslinya, dan petugas pengambilan nomor tidak mau menerima sama sekali jika ada berkas yang kurang. Petugas bilang antrian dibuka sampai jam 2. Akhirnya saya pulang untuk membereskan semua persyaratan mengejar sebelum jam 2. Sampai saya balik lagi sekitar jam 12, saya tanya petugas lain, dan dibilang antrian di tutup sampai jam 10! Kesaaal tau gitu saya ga balik lagi, huhuhu. Sampai liat banner, bener juga antrian ditutup sampai jam 10. Tapi kenapa petugas kemarin bilang sampai jam 2?? Ahhh miskom apa gimana sih? Akhirnya saya memutuskan untuk kembali lagi besok pagi. Sebenarnya datang ke kantor lebih baik sejak sekitar jam 7 pagi agar dapat antrian pertama. Waktu saya buat paspor sendiri saya malah datang jam setengah 7 dan masih sepi. Dan saya dilayaninpaling pertama. Tapi sekarang ceritanya lain, dan langkah antrianpun berbeda. Saya harus bawa R juga dari pagi dan tau kan Mempersiapkan bayi dipagi hari. Sipain air mandi R, sarapan R, R mandi, lalu saya mandi dan saya sarapan. Langkahnya lebih panjang dibanding bawa diri sendiri. Hehehe
5. Kedatangan kedua, wawancara dan foto
Sampai kantor sekitar jam setengah 9 dan mengantri lagi. Alhamdulillah kali ini antrian lancar dan lolos sampai dapat nomor antrian. Hanya saja ada beberapa yang miss lagi mengenai berkas. Tapi untungnya kalau sudah lolos antrian dalam, orang dalam lebih fleksibel buat berkas yang kekurangan. Dan waktu R dapet antrian lama sekali sampai lewat jam istirahat. R keburu capek sampai tidur di mobil. Untuk melewati waktu antrian yang akan cukup lama itupun saya sempat beli makan siang yang belum sempat di makan karena R tidur, ke toko buku sebentar, mengambil uang di ATM dan isi bensin.
Sampai pada tempat ternyata antrian sudah lewat nomornya. Lalu saya langsung masuk ke counter 1 karena disana tertulis khusus balita, orang tua, balita dan penyandang disabilitas. Saya bilang kalau anak saya tidur karena menunggu antrian yang lama. Akhirnya saya setelah di cek kelengkapan masih ada yang kurang dan diminta untuk melengkapinya. Yang kurang adalah:
- fotokopi ktp orang tua harus berada dalam satu lembar kertas dan tidak di potong
- fotokopi surat nikah tidak hanya depannya yang terdapat foto kedua orang tua tapi juga dengan isinya yang berisi data orang tua.
- surat pernyataan pribadi, saya pikir surat pernyataan orang tua itu pengganti pernyataan pribadi, ternyata dua-duanya harus ada. Form surat pernyataan pribadi bisa diambil di pos depan, kalau pernyataan orang tua diambil pada saat mengambil nomor antrian. Bilang saja kita sedang membuatkan paspor untuk anak.
Akhirnya R dapat giliran wawancara dan foto. Petugas didalam bertanya kemana saya bilang aja mau jalan jalan. Hihihi. R dapet bonus permen dari petugas, tapi permennya dibiarkan R pegang-pegang aja tanpa dibuka plastiknya, karena masih 10 bulan dan belum kenal permen yang manis banget. Hihihi
(Saya juga berjanji dalam hati tidak akan mengenalkan duluan snack permen, ciki, coklat diluan sebelum R yang minta duluan)
6. Pengambilan paspor
Pengambilan paspor bisa dilakukan 3 hari kerja setelah foto. Kita harus ambil nomor antrian lagi tapi tidak dibatas jam 10. Disini ada kesalahan lagi. Bukti pembayaran terakhir saya kumpulkan di map kuning waktu R foto. Tapi ternyata waktu pengambilan paspor harus disertakan bukti pembayaran. Jadilah saya harus ke bagian informasi untuk mengambil nomor permohonan dan kembali lagi tempat pengambilan nomor antrian. Tidak lama kemudian saya mendapatkan paspor R. 


Alhamdulillah, setelah ini berdoa biar dapat rejeki untuk mengisi buku paspor ini sampai 5 tahun kedepan bersama keluarga kecil kita. We do love travelling around the world 😊😊

Penyakit Gondongan yang sedang merebak

Wow, it's been very long time ago since the last post . Baru aja cek apa aku bisa masuk ke blog ini lagi? ternyata bisa moms ! hihihi. S...