Tuesday, 21 August 2018

Tips Berlibur ke Luar Negri Bersama Anak



Seperti yang saya sebutkan di postingan sebelumnya. Banyak orang merasa tidak aman membawa anak bepergian jauh. Tapi banyak juga yang sudah lebih berani dari saya dalam hal traveling. Saya bukan orang yang pro dalam hal perjalanan. Karena memang tidak sering. Tapi dari pengalaman dua tahun ini, saya mendapatkan banyak pelajaran mengenai perjalanan bersama balita. Tidak mudah, tapi patut dicoba. Perjalanan keluarga kecil bisa menjadi ajang untuk melatih kekompakan. Membuat anak merasakan pengalaman baru. Anak juga akan tahu harus bagaimana di situasi seperti ini. Asalkan melakukan persiapan yang cukup matang. Yang sering saya lakukan sebelum berangkat, adalah.

Tentukan Destinasi
Ketika bepergian, saya selalu mempertimbangakan apakah anak akan senang di tempat tersebut atau tidak. Jika membawa anak, berarti kita mencari tempat yang ramah anak. Atau membuat tempat tersebut menjadi ramah anak.Walaupun ada destinasi yang ingin kita tuju, jangan lupa untuk mencari tempat yang kira-kira akan membuat anak senang. Sehingga ia merasa liburan itu bukan hanya untuk orang tuanya, tapi juga dirinya.

"Berselancar" Seluk Beluk Destinasi
Setelah menentukan tujuan. Saya selalu browsing di internet mengenai tempat tersebut. Bagian mana yang ingin saya kunjungi, dan bagian mana yang akan cocok untuk anak. membuat itinerary atau rencana perjalanan itu penting. Apalagi kalau membawa anak. Agar kita tahu kemana saja kita akan pergi, tidak bingung dan menghabiskan waktu di lokasi untuk menentukan tujuan. Saya juga selalu menggunakan aplikasi google maps untuk mengestimasi waktu tempuh dari hotel ke tempat-tempat tujuan. Mengecek jalur kereta atau bus, dan mencatatnya di itinerary.

Halal Trip
Karena saya muslim, jika memungkinkan saya mencari hotel yang dekat kawasan muslim. Dimana makanan halal akan mudah dicari. Saya juga mengecek lokasi dimana bisa melakukan shalat saat berjalan-jalan. Sejauh ini, saya belum kesulitan dalam mencari tempat ibadah. Karena lokasi tujuan masih ramah muslim. Jika tidak mendapat temat makan bersertifikasi halal, kami memutuskan untuk makan ayam goreng frachise yang sangat terkenal di seluruh dunia. Hehehe. Dan setiap negara tidak menyajikan menu yang sama. Pasti di sesuaikan dengan selera lokal saat itu. Seperti keberadaan nasi, tidak seperti di Indonesia, paket ayam dan nasi polos agak sulit ditemukan di luar negri. 

Packing
Karena bepergian bersama anak balita. Usahakan mengemas barang dengan minim tas. Dalam perjalan berangkat, kami hanya membawa satu koper medium, satu ransel yang cukup besar dan satu tas berisi stroller. Saya membawa tas cadangan yang cukup besar dan mudah dilipat di dalam koper, untuk persiapan penambahan barang saat pulang.
Saat bepergian seperti ini, saya meninggalkan tas selendang cantik yang sering saya gunakan sehari-hari. Saya juga meninggalkan dompet dan menggantinya dengan dompet traveling yang cukup besar untuk 3 paspor, satu pulpen, kartu identitas, debit dan credit card untuk berjaga-jaga, uang rupiah dan dollar.
Dalam tas ransel saya membawa, dompet traveling, alat sholat, tiket perjalanan dan hotel, botol minum, cemilan anak, buku kecil untuk anak, pensil warna, satu buku cerita, tempat makan kecil yang kosong (ini digunakan untuk sisa makanan kalau anak tidak mau makan saat kita makan dan kemungkinan lainnya), sendok bersih, susu anak, satu set baju ganti anak, handuk kecil, tisu basah, minyak kayu putih, essential oil, parfume oil, semua cairan harus dibawah 100ml dan tripod kecil untuk berfoto.
Dalam Koper sudah pasti baju-baju kami bertiga, segala bentuk cairan diatas 100ml saya masukkan koper. Demi menghemat, saya membawa susu UHT anak dalam koper, estimasikan jumlah susu selama perjalanan. 

Stroller
Sampai saat ini R berusia 3 tahun lebih, saya masih membawa stroller. Mungkin usia 4 tahun juga kita masih akan membawa benda tersebut. Karena perjalanan cukup jauh, anak mudah capek, dan masih perlu tidur siang, jadi bisa tidur di stroller. Kami menggunakan stroller yang bisa dilipat sampai sebesar ransel biasa. Cukup memudahkan perjalanan, kalau anak mengantuk. Yang menjadi tantangan menurut saya malah saat nanti anak sudah terlalu besar untuk menggunakan stroller. Untuk bayi mungkin bisa menggunakan baby carrier. 
Pelajaran yang saya dapatkan dari perjalanan terakhir adalah, kita membutuhkan rain cover untuk stroller. Agar kita bisa tetap berjalan-jalan dan anak aman dari hujan. Awalnya saya pikir rain cover itu hanya aksesoris tambahan dari stroller premium yang cukup mahal. Atau hanya bisa beli di luar negri karena di Indonesia stroller hanya digunakan di mall, hahaha. Ternyata setelah saya cek toko online di Indonesia juga sudah banyak yang jual raincover stroller. Jadi ini salah satu barang penting saat perjalanan kemarin.



Monday, 20 August 2018

Singapore with Toddler (Travel Hemat)

Saat mendengar kata liburan bersama anak, khususnya balita. Apa yang anda bayangkan? Saat saya dan suami merencanankan perjalanan ke Singapore tahun lalu, beberapa komentar kurang enak muncul dari orang-orang terdekat saya. Namun bagi yang suka traveling, pasti akan mengkondisikan segala cara agar liburan tetap terasa menyenangkan.

Beberapa orang berkata
"buat apa anak masih kecil dibawa liburan jauh-jauh? belum ngerti,"
 atau

"repot bawa anak kecil liburan, nanti malah ga nikmatin karena anaknya ga bisa diem atau rewel, lagian anaknya belum inget juga"
 hmmmm. Sebenernya ini pikiran suami saya juga sih. Hahaha

Tapi, keputusan saya membawa R liburan ke luar negri pastinya karena saya tidak bisa lepas dengan R. Belum pernah saya kepikiran untuk menitipkan R sampai berhari-hari, semalampun saya masih belum berani. Sejauh ini saya menitipkan R paling lama hanya untuk kegiatan harian biasa. Itu juga kadang-kadang dan hampir jarang. Tidur masih selalu dengan saya. Kalaupun dititipkan saya hanya percaya pada kakek-neneknya R, bukan orang lain.

Selain itu saya juga merasakan manfaat berjalan-jalan bersama keluarga inti adalah kerjasama. Kita membagi tugas, dan saling inisiatif. Tidak ada waktu untuk berdebat berlama-lama di jalan, karena kita tetap harus melanjutkan perjalanan.

Buat pecinta travelling, selama masih memungkinkan pasti akan berusaha untuk tetap bisa pergi. Apalagi membawa anak menjadi tantangan sendiri. Kalau buat saya, daripada ga jalan-jalan, atau daripada jalan-jalan dengan hati galau. Mending bawa anak sekalian. Sekalian nambah bonding, sekalian memperkenalkan belahan dunia lain. Walaupun kali ini saya baru bisa mengenalkan potongan kecil dari dunia. hihihi

Singapore, adalah negara pertama yang saya perkenalkan pada R. Semoga ada negara lain yang bisa saya  kenalkan. Kalau tidak, semoga R nanti bisa mengenal negara lain sendiri walaupun tanpa saya. Nanti, kalau sudah dewasa. hehehe

Tempat-tempat yang kami tuju pastinya yang toddler friendly. Jadwal yang saya susun juga dibuat se-fleksibel mungkin, dan tidak terlalu padat seperti bersama tour yang membawa orang dewasa. Berikut adalah kegiatan liburan kami di Singapore selma 4 hari 3 malam:

Playground Bandara Changi
Hari pertama, sesampai di Singapura, saya menemukan tempat menarik untuk anak-anak di Bandara. Ada playground untuk anak-anak melepas lelah setelah duduk cukup lama di  pesawat. orang tua juga bisa duduk-duduk sambil meluruskan kaki di sekitar playground. Playground cukup menarik perhatian anak. Sayangnya R hanya sempatt bermain sebentar karena kita harus segera check in hotel.

Makanan Halal dekat Hotel
Setelah check-in Hotel, kami makan di tempat makan terdekat bernama Al-Jailani. Temptanya berada di pinggir jalan, dan kami bisa merasakan suasan makan pinggir jalan di singapura yang minim sepeda motor. hihihi. Untuk makan halal lainnya sebenarnya ada di daerah Marina Bay Sands di Makansutra. Karena keburu lapar, jadi kita memutuskan makan Al-Jilani dulu. Al-Jilani berada di jalan Bencoolen. Tepatnya sebrang hotel Ibis Bencoolen. Kami hanya perlu berjalan 5 menit dari hotel tempat kami menginap menuju sana. Menu yang disediakan kebanyakan masakan Timur Tengah.

Marina Bay Sands
Malam itu juga kami berencana menuju kawasan Marina Bay Sands. Ternyata R sudah tertidur di stroller sebelum turun dari MRT. Jadi kita berjalan seputaran Marina Bay, melewati Helix Bridge, dan berjlaan menuju patung Merlion berdua sambil mendorong stroller R. Ternyata saat itu kita sempat menikmati Laser Show yang dinyalakan kembali sekitar jam 9 malam. Walaupun dari kejauhan, musik, pijaran lampu dan tarian air mancur terlihat indah. Saya akan memastikan besok untuk melihat lagi di jam dan tempat yang tepat. Terlebih lagi yang saya suka adalah, pertunjukan ini gratis. Hihihi.

Masih Bangun, semangat mau lihat patung Singa katanya
Ternyata ga kuat, ngantuk :D









Santosa Island
Hari kedua kami berencana menuju Santosa Island. Karena R masih balita, saya tidak berfikir untuk ke Universal studio. Saya dan suami memilih mengunjungi S.E.A Aquarium untuk memperlihatkan R Aquarium besar lainnya selain di Jakarta. R seperti biasa sangat tertarik melihat ikan-ikan yang berenang jauh diatasnya.

Menunggu Bus
Perjalanan Menuju Santosa Island


menyempatkan foto di depan Universal Studio walaupun tidak masuk ;p



Gardens By The Bay
Tempat yang saya sukai untuk R bermain dengan senang secara gratis ya disini, hihihi. Childern Garden's disini punya banyak pipa berwarna-warni yang memancurkan air dengan berbagai variasi. selain itu, kita tidak perlu anak khawatir terpeleset karena karpetnya terbuat dari karet, aman untuk anak berlari-lari di tengah hujan buatan. R senang sekali bermain disini, ia bermain air sampai tempatnya tutup.

R menikmati hujan buatan

Habis main air, bermain di playground kering





Jalan-Jalan di Orchard Road
Sambil sedikit belanja, kita berjalan di sepanjang Orchard Road. Ternyata ada es krim potong yang khas dari Singapura. Kita menyempatkan membeli dan memancing R bangun dengan es krim itu. Hihihi


Bermain dengan teman baru, sambil menunggu yang shalat Jum'at








Sunday, 13 August 2017

GTM dan Picky Eater

Halo, sudah lama sekali tempat curhat emak satu anak ini terbengkalai ya (sambil bersihin sarang laba-laba dipinggiran blog). Laptop saya juga cukup berdebu karena dibiarkan stand by diatas meja tapi gagal dibuka terus. Dulu sulit sekali dapat koneksi internet melalui tethering handphone ke laptop, posting blog lewat HP rasanya pegel, ga enak ngetiknya. Akhirnya hiburan saya hanya lewat update medsos dan liatin timeline setiap hari. Alhamdulillah suami pasang internet fiber optik di rumah, jadi lebih mudah buat akses internet di laptop. Browsing lebih enak, bloging lebih nyaman, makasih piku^^

Dari terakhir posting itu sekitar satu tahun lalu ya, waktu R bikin paspor. Udah lama sekali ternyata saya ga mampir ketak-ketik disini. Sekarang saya ingin membahas masalah GTM (Gerakan Tutup Mulut) dan Picky Eater melalui kacamata saya. Dari pengalaman saya sendiri dan memang belum ada jalan keluar yang pasti ya, penyebabnya saja saya masih ga yakin, hehehe. Jadi disini saya mau curhat aja apa yang sudah saya lalui. Jujur aja hal ini cukup bikin saya stress, karena saya berharap terlalu banyak untuk hal ini. Saya ga pernah membayangkan R akan sesulit ini untuk makan, dan akan se-picky ini dalam memilih-milih makanan. Saya ingin R menjadi anak yang sempurna dengan cara yang berbeda, saya telalu idealis kalau cara-cara antimainstream akan membuat R menjadi anak yang berbeda dan mengagumkan. Pola pikir seperti itulah yang membuat saya stress karena pada kenyataannya R jauh dari idealisme yang saya buat.



Awal makan R pada usia 6 bulan, dulu saya mempersiapkan MPASI R dengan cara Spoon Feeding, lalu saya menemukan metode BLW (Baby Led Weaning). Saya pikir BLW keren, dan akan berhasil pada setiap anak. Saya merasa bangga ketika R bisa mengambil makanan sehatnya sendiri dan memakannya dengan sukarela tanpa dipaksa. Awalnya saya berencana mix BLW dan SF, lalu saya melihat R lebih senang dengan cara makan BLW dan agak sulit disuapi. Saya memutuskan R untuk full BLW. Tapi saya tidak begitu mendalami BLW ini, saya hanya bermodal browsing sana-sini dan melihat anak yang melakukan metode yang sama melalui media sosial. Sampai sekarang saya masih belum memiliki buku panduan khusus untuk metode makan seperti ini. Mungkin inilah penyebabnya, saya kurang ilmu untuk menerapkan metode ini pada R, jadi berujung pada GTM dan picky eater dimana sifat ini sangat kebalikannya dari hasil yang diharapkan dari metode BLW ya.

Saya tidak tahu awalnya dari mana, dan saya juga lupa semenjak umur berapa bulan R akhirnya saya kembali suapi dengan sendok atau tangan, dan parahnya kadang sambil nonton. Jauh dari idealisme yang saya inginkan. Mungkin pada saat R berumur 18 bulan, kita mendapati R sedang sakit dan sangat sulit untuk mau makan sendiri, akhirnya saya suapi dan lama-lama ia menjadi sangat picky dan  saya sampai tidak tahu apa yang bisa dimakan R saat dia GTM. Akhirnya makanan R hanya berputar pada telur dan daging ayam plus kecap. R jadi sering sakit-sakitan karena sulit makan, makan sendiri ga mau, disuapi susah. Saya merasa gagal menjadi ibu setiap R sakit, dan kesal ketika R tidak mau makan. Saya ajak jalan-jalan makannya cuma beberapa sendok, paling lancar memang saat menonton tv dan saat ia memang sedang lapar. Salahnya saya pada saat momen lapar R saya menyerah menyediakan makanan sehat pada R, saya menuruti maunya R. Susu, biskuit, bubur bayi instant, kue-kue yang dia suka. Saya mengikuti kata sebagian orang termasuk orang tua dan mertua saya  "yang penting ada makanan yang masuk". Karena berat bada R-pun sudah berada di batas bawah normal.

Tidak jarang saya emosi dalam menghadapi pola makan R. Dalam beberapa masa saya ga mau ambil pusing, saya berusaha sediakan makanan sehat setiap hari tapi kalau R menolak saya langsung cari-cari dan tawarkan kira-kira makanan apa yang R mau, saya berusaha tenang. Ketika R sudah lancar makan, tiba-tiba ia menjadi susah makan lagi, mungkin tumbuh gigi atau sedang tidak enak badan. Tapi R bisa makan kerupuk dan tidak mau makan nasi, ata karbohidrat lain, R selalu menolak makanan yang saya tawarkan. Sampai saya frustasi saya menasehati R seperti saya menasehati anak SMP yang sudah bisa belajar matematika dan biologi. Dengan nada tinggi, dan sedikit frustasi. R semakin tidak mau makan. 

Oke, disinilah kesalahan saya. Saya kurang sabar, bahkan sangat tidak sabar. Ketika R saya beri label "anak susah makan" saya terus merasa insecure pada saat jam makan R. sedikit saja R menolak saya langsung panik "Ayo R makan biar sehat, biar kuat" dengan nada agak tinggi namun masih sedikit sabar. penolakan R bukan karena pada makanannya, tapi bisa jadi pada cara saya memberikan makan. Namun, ketika saya coba R kembali makan sendiri, R mulai menikmatinya. Namun lagi-lagi ada kesalahan yang saya lakukan, bayangan saya adalah pada patokan seberapa banyak R harus makan. Ketika R sedang makan saya kadang berkata "sayurnya dong dimakan, trus dagingnya, nasinya juga ya" intersupsi ini yang kadang membuat R berhenti makan. Ketika R berhenti makan "eehh kok udahan makannya? ini masih banyak sisanya" hal ini juga yang mungkin membuat R malas makan. Terlalu banyak interupsi.

Sebenarnya saya malu sekali menuliskan ini, namun saya juga perlu catatan dan pengingat apa saja sebenarnya kesalahan saya. Sengaja saya publish  agar ibu lain tidak seperti saya. Sampai sekarang saya masih belum total bisa memperbaiki pola makan R yang kadang GTM dan picky. Pada suatu waktu R lancar makan dengan disuapi sambil nonton atau sambil jalan-jalan. Atau makan sendiri dulu, kalau masih sisa banyak saya suapi. Saya merasa gagal dengan pola makan seperti ini, tidak sesuai dengan harapan saya. Dan semakin baper ketika melihat video anak seusia R lulus BLW, bisa makan sendiri tanpa pilih-pilih. Atau makanan kesuakaan anak itu adalah makanan sehat. Perilaku saya ini juga kurang sehat ya,.Dengan menginginkan R menjadi seperti orang lain.

Saya seharusnya fokus pada perkembanga R aja. Dan banyak bersyukur jika R mau makan. Memuji normal setiap kemajuan  R. Maksudnya memuji normal adalah tidak berlebihan sehingga anak tidak mudah puas dengan pencapaiannya.

Dengan keadaan R seperti ini, saya jadi berubah pikiran tentang Spoon Feeding yang dulu saya anggap tidak berguna dan tidak ada manfaatnya dalam pembelajaran anak. Ternyata SF juga membentuk kelekatan anak pada orang yang menyuapinya. Tapi harapan saya tetap seharusnya R makan sambil duduk dan cukup berkomunikasi saja, tidak perlu pakai nonton apalagi sambil jalan-jalan kesana kemari. Durasi waktu makan juga tidak perlu terlalu lama. Membujuk terus menerus sampai makanan habis dengan berbagai janji yang belum tentu bisa kita tepati juga saya kurang setuju dengan cara tersebut.

Akhirnya saya sekarang harus memulai bersabar dengan metode yang saya inginkan. Saya tidak bisa berkspektasi langsung jadi seperti yang saya inginkan. Dan harus bisa lebih menahan diri untuk "mengomel" pada R. Menjauhkan R dari trauma makan, masih Pe-er banget buat saya. Semoga kalay dikasih rejeki anak lagi pengetahuan saya lebih jelas mengenai cara menerapkan pola makan sehat pada anak. Aamiin

Thursday, 11 February 2016

Membuat paspor anak via online

Saya mau sharing proses pembuatan paspor R minggu kemarin. Paspor yang dimaksud disini paspor buku seperti biasa ya, bukan yang elektronik. Karena pada saat saya berencana buat yang elektronik katanya ga bisa di Bandung, bisanya di tempat tertentu di Jakarta. Huhuhu
Anak yang dimaksud juga adalah anak berumur di bawah 18 tahun, karena masih belum memiliki ktp. Berikutnlangkah yang saya lakukan dan kesalahn yang tentunya tidak perlu Anda ulang. Karena saya merasa informasi kelengkapan data secara online dari badan Imigrasi masih kurang, dan ada uga kesalahan yang saya lakukan sampai saya harus bolak-balik. Maka saya berencana membagi pengalaman ini untuk meminimalisir orang yang bernasib sama. Hehehehe
1. Daftar online
Masuk ke web badan imigrasi https://ipass.imigrasi.go.id:9443/xpnet/faces/xpnet-main.xhtml lalu pilih pra permohonan personal. Sebelumnya Anda bisa mengklik petunjuk pengisian layanan paspor online lalu mengisi data sesuai petunjuk yang di download terlebih dahulu.
2. Email konfirmasi dan pembayaran
Kita akan menerima email konfirmasi dan diarahkan untuk melakukan pembayaran ke bank BNI. Ada lampiran yang perlu kita cetak terlebih dahulu, lalu melakukan pembayaran langsung ke bank BNI. Lalu kita akan menerima bukti pembayaran.

3. Konfirmasi pembayaran
Kesalahan saya adalah lupa melakukan konfirmasi pembayaran. Dan untuk jadwal kedatangan saya ke kantor imigrasi, saya mengacu pada tanggal yang saya pilih di pendaftaran awal. Ternyata H-1 saya berencana ke kantor imigrasi saya mengecek kembali email dan membaca poin poin keterangan. Baru saya mengkonfirmasi pembayaran dan mengecek tanggal kedatangan ke kantor. Ternyata pada tanggal yang saya klik sebelumnya sudah berwarna abu abu yang berarti sudah penuh, dan baru bisa mengatur jadwal untuk minggu depan. 
Saya masih kekeuh ingin melakukan proses pembuatan paspor besok, saya penasaran dan mencoba datang langsung ke kantor imigrasi untuk memastikan. Setelah bertanya pada petugas, barcode dari bukti pembayaran di scan dan keluar tanggal yang saya pilih pada saat konfirmasi pembayaran bukan saat daftar pertama. Oke, saya akan datang pada tanggal tersebut. 
4. Kedatangan pertama
Saya mendatangi kantor imigrasi Bandung yang berada di jalan Suci. Antrian panjang berada di dua sisi. Saya tidak langsung mengantri, tetapi masuk dan bertanya pada petugas kalau saya peserta online harus kemana. Lalu petugas mengarahkan untuk baris di antrian sebelah kiri kalau dari arah gerbang. Ga banyak yang tau tentang ini karena tidak ada plang keterangan nama antrian. Jadi sebenarnya itu antrian bercampur. Masih ada orang offline yang antri di antrian online. Padahal yang antri online sebenarnya ga sebanyak offline, jadilah antrian tetap lama karena yg offline tetap diarahkan, tidak disuruh balik antri. Di antrian itu saya banyak menyadari kesalahan. Kenapa orang-orang sudah membawa map dan berkas-berkas yang saya tidak ketahui? Lirik punya lirik saya menemukan papan pengumuman berisi list berkas yang harus di bawa untuk anak dibawah 18 tahun. Dan saya menyadari banyak yang belum siap. 
Saya tetap antri walaupun masih ada berkas yang kurang. Siapa tau setelah dapet nomor antrian saya bisa pulang dulu dan kembali lagi. Melihat antrian yang panjang, pasti sempat. Ternyata dari petugas pengambilan antrian saya udah kena dari KTP asli yang lupa saya bawa! Karena terselip di mesin scan rumah saya, terakhir saya fotokopi KTP di alat itu. Ini benar benar lupa. Jadi memang seluruh berkas persyaratan harus dibawa bersama aslinya, dan petugas pengambilan nomor tidak mau menerima sama sekali jika ada berkas yang kurang. Petugas bilang antrian dibuka sampai jam 2. Akhirnya saya pulang untuk membereskan semua persyaratan mengejar sebelum jam 2. Sampai saya balik lagi sekitar jam 12, saya tanya petugas lain, dan dibilang antrian di tutup sampai jam 10! Kesaaal tau gitu saya ga balik lagi, huhuhu. Sampai liat banner, bener juga antrian ditutup sampai jam 10. Tapi kenapa petugas kemarin bilang sampai jam 2?? Ahhh miskom apa gimana sih? Akhirnya saya memutuskan untuk kembali lagi besok pagi. Sebenarnya datang ke kantor lebih baik sejak sekitar jam 7 pagi agar dapat antrian pertama. Waktu saya buat paspor sendiri saya malah datang jam setengah 7 dan masih sepi. Dan saya dilayaninpaling pertama. Tapi sekarang ceritanya lain, dan langkah antrianpun berbeda. Saya harus bawa R juga dari pagi dan tau kan Mempersiapkan bayi dipagi hari. Sipain air mandi R, sarapan R, R mandi, lalu saya mandi dan saya sarapan. Langkahnya lebih panjang dibanding bawa diri sendiri. Hehehe
5. Kedatangan kedua, wawancara dan foto
Sampai kantor sekitar jam setengah 9 dan mengantri lagi. Alhamdulillah kali ini antrian lancar dan lolos sampai dapat nomor antrian. Hanya saja ada beberapa yang miss lagi mengenai berkas. Tapi untungnya kalau sudah lolos antrian dalam, orang dalam lebih fleksibel buat berkas yang kekurangan. Dan waktu R dapet antrian lama sekali sampai lewat jam istirahat. R keburu capek sampai tidur di mobil. Untuk melewati waktu antrian yang akan cukup lama itupun saya sempat beli makan siang yang belum sempat di makan karena R tidur, ke toko buku sebentar, mengambil uang di ATM dan isi bensin.
Sampai pada tempat ternyata antrian sudah lewat nomornya. Lalu saya langsung masuk ke counter 1 karena disana tertulis khusus balita, orang tua, balita dan penyandang disabilitas. Saya bilang kalau anak saya tidur karena menunggu antrian yang lama. Akhirnya saya setelah di cek kelengkapan masih ada yang kurang dan diminta untuk melengkapinya. Yang kurang adalah:
- fotokopi ktp orang tua harus berada dalam satu lembar kertas dan tidak di potong
- fotokopi surat nikah tidak hanya depannya yang terdapat foto kedua orang tua tapi juga dengan isinya yang berisi data orang tua.
- surat pernyataan pribadi, saya pikir surat pernyataan orang tua itu pengganti pernyataan pribadi, ternyata dua-duanya harus ada. Form surat pernyataan pribadi bisa diambil di pos depan, kalau pernyataan orang tua diambil pada saat mengambil nomor antrian. Bilang saja kita sedang membuatkan paspor untuk anak.
Akhirnya R dapat giliran wawancara dan foto. Petugas didalam bertanya kemana saya bilang aja mau jalan jalan. Hihihi. R dapet bonus permen dari petugas, tapi permennya dibiarkan R pegang-pegang aja tanpa dibuka plastiknya, karena masih 10 bulan dan belum kenal permen yang manis banget. Hihihi
(Saya juga berjanji dalam hati tidak akan mengenalkan duluan snack permen, ciki, coklat diluan sebelum R yang minta duluan)
6. Pengambilan paspor
Pengambilan paspor bisa dilakukan 3 hari kerja setelah foto. Kita harus ambil nomor antrian lagi tapi tidak dibatas jam 10. Disini ada kesalahan lagi. Bukti pembayaran terakhir saya kumpulkan di map kuning waktu R foto. Tapi ternyata waktu pengambilan paspor harus disertakan bukti pembayaran. Jadilah saya harus ke bagian informasi untuk mengambil nomor permohonan dan kembali lagi tempat pengambilan nomor antrian. Tidak lama kemudian saya mendapatkan paspor R. 


Alhamdulillah, setelah ini berdoa biar dapat rejeki untuk mengisi buku paspor ini sampai 5 tahun kedepan bersama keluarga kecil kita. We do love travelling around the world 😊😊

Thursday, 24 December 2015

Balada Full Time Mother

Kalau menurut saya bayi itu seperti kertas putih dan ibu adalah pena, lingkungan adalah pensil warna bagi kertas tersebut.. Fungsinya sama, tapi yang satu cuma punya satu warna tegas dan yang satu memiliki beragam warna which is akan banyak mempengaruhi sifat bayi. Setiap bayi memang memiliki sifat dasar yang berbeda beda, lalu dipertegas oleh ibunya dan sedikit banyak lingkungan yang akan banyak mempengaruhi.
Sebagai FTM saya jadi punya banyak rencana yang ingin saya tuliskan di kertas putih ini, saya ingin anak saya bebas mandiri dan beragama (kayak slogan partai apa gimana ya) membuat dia bisa memilih sendiri hal yang baik untuknya. Emang masih bayi belum ngerti ya secara omongan kita masih satu arah, tapi saya percaya secara alamiah bayi itu punya insting. Contohnya, R biasanya susah dikasih minum air putih, tetapi waktu R diumur 7 bulan R sakit batuk pilek yang dimana perlu banyak cairan R mudah ditawarkan air putih dan menyusu, setelah sehat dia ogah lagi rajin rajin minum air putih kecuali kalau benar benar haus. Rencana kita belum tentu sama dengan rencana orang lain, bahkan bisa berbeda dengan ibu sendiri apalagi MIL. 
Saya ingin anak saya biasa duduk di carseat, makan ala BLW dengan harapan terhinfar dari picky eater dan selalu bisa makan bersama dinjam makan, tidak terlalu banyak dilarang ini itu dalam geraknya, berbicara dan berbahasa yang baik. Itu harapan yaaa, yang mempengaruhi sukses dan tidaknya ya si pena dan pensil warna itu plus sifat dasar bayi sih, hehehe
Sedihnya R kemarin kemarin udah biasa duduk di carseat dan kita bisa jalan berdua dengan tenang, 3 hari kemarin R nangis kejer kalau saya nyetir, akhirnya harus dipegangin orang saya pikir awalnya karena laper jadi pengen nyusu, tapi ini setiap jalan R nangis terus pengen nyusu padahal saya pikir R udah cukuo kenyang. Saya ga tau apa karena mau umur 9 bulan udah mulai muncul sifat ga mau lepas sama ibu atau carseat bau dan R tidak nyaman di carseat atauuu beberapa hari saya di Bandung R agak dilonggarin disiplin duduk di carseat karena neneknya pengen gendong R di kursi depan 😔 acara makan BLW pun jadi mix ga jelas, tadinya saya mau kasih bubur sekali kali buat boost berat badannya yang susah naik tapi dengan tetap duduk di HC, tapi kalau neneknya maunya suapi sambil digendong jadilah R lebih suka disuapi sambil digendong ketimbang duduk di HC, sayapun menyesal melonggarkan aturan, akhirnya saya bilang "sambil duduk aja nanti kebiasaan digendong lagi" dan sepertinya saya harus memulai dari nol
lagi memperkenalkan BLW dan disiplin carseat, dan kebiasaan lainnya yang ingin saya terapin. 
Saya bersyukur jadi FTM jadi bisa mengontrol sendiri perkembangan anak saya, pernah ada rencana meninggalkan anak untuk bekerja malah dipertemukan sama ibu yang berhenti bekerja karena anaknya telat berbicara, jadi ceritanya anaknya ga bisa fokus dan bicara di umur hampir 3 tahun, penyebabnua dipastikan karena pengasuhnya dulu waktu jaga anaknya hanya menyimpan dia di bouncher dan di hadapkan ke tv, dan tidak banyak interaksi, bahkan makanpun disuapi aambil menghadap tv, sedih banget kan dengernya langsung parno deh mau ninggalin anak. Suami mau ajak jalan jalan dengan ninggalin anak beberapa hari aja saya rasanya beraaaat banget banyak pertimbangan walaupun bisa nyimpen ASIP taoi saya ga percaya aja R dipegang orang selain saya even itu ibu saya atau MIL karena yang saya rasa pola pikir pengasuhan kita berbeda. Parno berlebihan, sama tanggung jawab beda tipis ya 😁
Nanti deh kalau R udah lewat 2 tahun baru saya berani titip titip atau paling cepet setaun dan sudah bisa dikategorikan aman bisa minum susu pengganti ASI antara UHT, susu steril atau sufor (the last choice) tanpa dot, karena R agak susah minum dari dot. Dan saya masih clueless gimana cara dia tidur tanpa nyusu langsung dari pabriknya 😅 somebody pelase tell me how your baby start sleeping without breastfeed 😁
Saya selalu berdoa semoga keluarga kita selalu berjalan dalam lindungan Allah swt, dan kita selalu berjalan mengikuti ajaranNya, aamiiinn. 

Wednesday, 4 November 2015

Cerita Pro kontra BLW (R)

Bubur%20Gasol%20Beras%20Coklat%20Ayam%20Bawang

Buah%20naga%20for%20Halloween

Kalau pulang ke Bandung dan ketemu keluarga pasti pro kontra sama cara makan R, dan yang paling keras kontra itu ibu saya sendiri. Mertua malah oke oke aja, waktu MIL iseng ngomong ke R "aduh makannya berantakan~" FIL malah jawab "kan masih belajar makan, ga apa ya" dan entah kenapa dengan kata kata itu saya ngerasa terhibur banget karena ibu saya walaupun terkesan membiarkan saya memilih metode makan R yang saya pilih, tapi selalu mewanti wanti "ga apa apa cara kaya gitu tapi ditambah suapin juga, kasian ga kenyang" malah pas ngomong ke R "kamu jadi kurus gini, kasian makannya ga bener jadi kurang gizi" deeeeng rasanya sedih banget R dibilang kurang gizi -_- saya sebagai emak amatir yang plin plan dan suka galau jadi goyah, padahal sebelumnya udah yakin bin mantap mau kasi makan metode blw. Padahal saya udah jelasin, prinsip di Baby Led Weaning itu bayi umur 6 bulan sampai 1 tahun masih belajar makan, kalau ga kenyang ya pasti minta ASI, dan bukannya kandungan ASI itu terbaik dan memiliki banyak nutrisi? Tapi yaaa mungkin karena ibu saya kurang pengetahuan mengenai BLW aja kali ya..

Jadi perjalanan pro-kontra BLW ini dimulai saat sampai di rumah mertua, pagi pagi saya ingin kasih R buah seperti biasa, saya minta buah naga yang di kulkas, saya potong potong biar bisa digenggam R sementara MIL, FIL dan suami siapin tempat makan R, karena ga ada HC atau BS di Bandung jadinya matras yang di lap plus bantal buat sandaran jadi tempat makan R. Dan semua ketawa ketawa liat cara makan R, terhibur dan mendukung acara makan ini.. Malah begitu beres saya masih cuci tangan dan mulut R, MIL udah langsung beresin sisa2 berantakannya buah naga, mereka ga masalah sama sarung bantal yang dipeperin buah naga sama R, FIL selalu bilang "kalau buat cucuku ga apa apa".
Trus kita main ke rumah saudara, bingung lagi R mau dikasih makan apa, karena biasanya di rumah saudara ini ada lalapan saya pikir coba kasi timun, selada dan kentang. Tapi ternyata lalapan kali ini tidak tersedia trus ditanya "biasanya makan apa? Coba cari di kulkas siapa tau ada" akhirnya saya menemukan kentang, labu, dan timun. R makannya udah lancar dan lahap walaupun berantakan dan jatuh jatuh yang dipegang, jadilah acara makan R jadi pusat perhatian disana walaupun ada selentingan yg khawatir dengan cara makan R "itu ga apa apa di makan langsung? Ga akan keselek?" Tapi Ya selewat aja, toh saya yang kasi makan, hehehe. Tapi MIL tetep kooperatif merhatiin R makan, kadang MIL juga gereget nyuapin R, labunya di pencet pencet sama jari biar ancur trus disuapin ke R. Hahaha. Padahal R sekarang bisa ngulum makananannya loh, dikunyah sama gusi, lidah mendkan makanan ke langit langit mulutnya biar makanan ancur. Kereeenn
Besoknya, R main ke rumah uyutnya.. Saya lagi lagi ga nyiapin makan R dari rumah karena emang ga ada apa apa yang cocok di makan R, akhirnya R tertarik sama lontong yah oke deh saya kasih lontong. Hmmm di uyut R ga banyak makan sih, sering main dan ASI aja.
Waktunya pindah ke rumah mama alias ibu saya, pagi pagi saya minta buah ga ada apa apa ternyata, yo wis dadakan, trus minta ketupat aja sama belanja di mang sayur buat makan siang R, ikan, bayem, jagung, kentang. Acara makan siang ngampar seperti biasa, dan R suka banget jagung manis seperti biasa. Disini mama oke oke aja, trus dikasih jus buah, R kalau dikasih yang cair maunya di sruput aja ala gelas, ga mau disendokin. Tapi mama terus nyeletuk seperti kata kata di paragraf atas, yang akhirnya saya beli bubur bayi instant rasa ayam bawang biar hati mama tenang, saya suapin deh ternyata R suka, saya liat komposisinya pake gula ... Hmmm yaudalah sekali kali, saya ga terlalu strict sih tapi tetep pengen yang terbaik buat R. Pulang dari Bandung ibu saya chat panjang lebar soal cara makan R, intimya disuruh buatin bubur saring dan disuapin, kemarin malah R mau disuapin jus buah sambil digendong jalan jalan aaaaaaa BIG NO NO!! Walaupun cuma mau nyoba sekali tapi parno bakal jadi kebiasaan, saya ga punya mba mba baby sitter atau ART yang bakal siap lari lari buat ngasi makan R tiap hari, saya mau R makannya duduk, semoga dengan cara ini berhasil yaa.. Bonus no picky eater tentunya, MIL sempet nany pas R pegang buncis "itu dia mau makan buncis?" "Kalau wortel di makan ga?" Saya ngangguk bangga "malah suka ma" "bagus ya ga pilihan makannya". MIL selama ini khawatir sama anak yang picky eater dan ga mau naik tekstur kalau makan, ada sepupu R yang masih ga bisa makan nasi sampai umur 2 tahun lebih, dan R sekarang udah kenal nasi malah tadi pengen nasi merah yang saya makan dan MIL pun senang. Hehehe

Yaa kontra belajar makannya R ternyata ada di di ibu saya sendiri, tapi mungkin emang karena mama selalu menggap waktu masih ASIX itu bayi ga kenal lapar, adanya haus jadi minum ASI, kalau bayi lapar harus makan makanya ASI ga dianggap mengenyangkan. Saya sendiri dulu ga ASIX 6 bulan malah berhenti ASI di umur 6 bulan,  tapi ga apa apa saya ga menyalahkan ibu saya karena pasti ada alasannya dan pemahaman jaman dulu kan emang beda sama hakan sekarang. 

Cita cita saya R dengan BLW ini bida makan sendiri dengan sendik diumur satu tahun, tau kalau makan itu harus duduk, dan ga picky eater. Bismillah yaa.. 

Monday, 2 November 2015

MPASI Stuff

Terakhir bahas persiapan peralatan MPASI dengen ekspektasi ngasih makan dengan metode Spoon Feed, atau konvensional atau bubur buburan dan nasi tim. Apa kalau ganti ke BLW perlatan ga kepake? alhamdulillah masih kepake, hehehe. Sengaja dari awal berniat ga akan beli barang yang cuma kepake buat bayi, baby cook atau sejenisnya yang fungsi dan porsinya khusus bayi tapi harganya mahal saya hindari :)



Takahi slow cooker saya sengaja beli yang 1,2 L karena setelah MPASI masih ingin kepake buat coba masak masakan sehari-hari, ternyata dari awal pake udah buat masakan makanan sehari-hari, lumayan gausah nongkrongin kompor, bisa sambil ngerjain yang lain atau main sama R, hehehe. Sampai sekarang udah pernah dipake buat bikin Sayur Lodeh, Sayur Kacang, Rendang, dan percobaan kue buat R (gagal) yang masih belum tau selahnya bikin cake di SC gimana. hehehe



Hand Blender akhirnya saya beli yang Bosch, asalnya pengen beli yang Philips tapi yang tersedia di toko itu dan buru buru juga perlu buat di bawa pindah plus MPASI sudah dimulai. Ternyata oke juga, saya kalau bikin puree atau jus jus gitu jarang pake air lagi, kalau pake Hand Blender tinggal di nyalain sambil ala bejek bejek, sampai airnya keluar sendiri dari buahnya trus lancar deh blendernya. Terakhir saya coba chopping daging sapi ga tau karena kepenuhan atau daging sapinya suhu ruangan ya jadi ga ancur, saya ciba taro freezer dan chop pas masih dingin dengan daging yang ga terlalu banyak ancur, choppernya juga berguna buat stok bawang-bawangan, saya chop dulu trus di stock di tempat kedap udara. Agak ragumau nge-grind oat di tempat chopper, ternyata bisa! :D

Tertarik beli Lunch Jar Zojirushi tapi ternyata harganyaaaa menohok, cuma untuk tempat makan kok seharga SC? buat saya sih kurang worth, karena kepakenya sekali kali, hehehe. Sampai sekarang aja baru kepake 2 kali. Akhirnya beli merk Krisbow beli di Ace Hardware dengan harga di bawah setengahnya Zojirushi. Beda model sih, tapi fungsinya sama bisa naro makanan dan tetep anget :)

Nah buibu beli yang mana? yang khusus baby apa yang bisa kepake lama? hehehe
pilihan ya, karena saya ga begitu memisahkan peralatan MPASI dengan peralatan dapur biasa, talenan, pisau, semuanya sama  asal dicuci sebelum dipake.karena BLW yang jadi piring adalah meja makannya R yang di HC, tinggal dilepas dan dicuci pake Sleek tiap beres makan ;)
Ga steril? hmmm bismillah deh alhamdulillah belum pernah sakit karena bakteri :p


Penyakit Gondongan yang sedang merebak

Wow, it's been very long time ago since the last post . Baru aja cek apa aku bisa masuk ke blog ini lagi? ternyata bisa moms ! hihihi. S...